
Anak Awan
Karya : Bagus Sulistio
Dari balik jendela yang sedikit
berdebu, berdiri seorang bocah laki-laki. Melihat suasana sore di seberang
jendela. Awan yang hitam di langit ia pandangi secara mendalam. Menimbulkan
otaknya bekerja keras. Ia merasa sedang bercakap-cakap dengan awan. Dan ia
mempunyai satu pertanyaan untuk awan.
Apakah awan yang mendung selalu menghasilkan hujan?
Teman bocah itu datang dan
menghentikan pikirannya. "Apa yang kau pikirkan, Tofa?". Bocah
laki-laki menoleh kemudian menggelengkan kepalanya. Temannya tau maksud itu dan
pergi begitu meninggalkan bocah itu. Ia kembali melanjutkan keasikannya
menyaksikan simposium para awan.
"Hey! Kenapa kau tak pergi
kelas sekarang?" Seorang Keamanan asrama menegurnya. Ia terkejut. Bocah itu bergerak dengan
terburu-buru mengambil alat tulis dan kitab yang akan dikajinya. Sepasang
sandal tapi berbeda warna dan rupa, ia pakai untuk menuju kelas.
Sesampainya di kelas, suasana ricuh
sangat berisik. Teman-temannya berbagai kegiatan. Ada yang mengobrol,
menyanyikan lagu berbahasa Arab bahkan memukul-mukul meja. Tapi bocah itu hanya
duduk termenung sambil melihat awan di luar sana. Pikirannya kembali bekerja
dengan kuat-kuat.
Datanglah seorang pria bersarung
dan berpeci masuk ke ruangan itu. Seketika mereka yang di dalamnya membungkam
mulut. Suasana hening sejenak. Hingga lelaki itu memulai memecahkan suasana itu
dengan salam. Walaupun mereka menjawabnya tubuh yang masih kaku. Pria berpeci
itu menjelaskan suatu perihal yang masih di sulit di mengerti bagi mereka. Di
tengah menjelaskan pria berpeci bertanya kepada bocah itu, "Paham apa yang
ustadz katakan, Tofa? Coba jelaskan kembali.". Bocah itu kebingungan dan
memaku dirinya. Tak tahu jawaban apa yang dikatakan.
Pria berpeci menunggu jawaban bocah
yang tak kunjung keluar dari mulutnya. "Gimana Tofa? Jika tak tahu
perhatikan ustadz." Ia tak sabar dan menjelaskan kembali apa yang
dikatakan tadi. Mereka semua kembali memperhatikan pria berpeci tidak
terkecuali anak kecil itu. Ia memerhatikan dengan seksama. Gerak bibirnya ia
perhatikan betul. Sehingga ia sekali dapat melihat air liur pria berpeci keluar
dari mulutnya. Bocah itu berusaha mencerna apa yang pria katakan. Tapi tak
kunjung dimengerti. Otaknya dedel. Ia lebih suka memahami perkataan awan mendung
daripada pria itu.
Pria itu menyudahi perkataannya.
Kemudian keluar dengan langkah yang jelas. Bocah dan teman-temannya mengikuti
langkah pria berpeci. Sebagian dari mereka ada yang memutuskan tetap tinggal
ditempat. Melakukan hal yang membahagiakan dirinya sendiri. Tanpa menghiraukan
mereka yang keluar.
Di pertengahan jalan mereka
memisahkan diri dengan pria berpeci. Seketika pria itu hilang termakan pintu
sebuah bangunan yang lumayan apik. Berbeda dengan tempat yang mereka tuju.
Walaupun demikian mereka tetap melanjutkan perjalanan. Menuju tempat
peristirahatannya tanpa ingin mampir ke tempat terbenamnya pria berpeci.
Tempat itu seketika ramai. Dipenuhi
teman-teman bocah yang gembira melakukan permainan-permainan. Sedangkan bocah
itu buru-buru meletakkan buku dan alat pulpennya dan kembali ke jendelanya.
Yang menampilkan awan hitam di waktu senja. Ia perhatikan awan itu dengan
seksama. Awan sekarang berbeda dengan yang tadi. Awan sekarang kurang
bersahabat. Ia mengeluarkan guntur. Guntur bergerilya kesana-kemari. Seperti
anak yang hilang mencari orang tuanya. Anak yang hilang mencari orang tuanya?
Mungkin kalimat itu sesuai dengan dirinya. Tidak, tidak, mungkin kata hilang
dan mencari lebih baik diganti dengan kata terkurung dan menunggu.
Bocah itu sangat ingin bertemu
orang tuanya. Ia harus menceritakan apa yang pria-pria berpeci lainnya lakukan
kepadanya. Hampir setiap hari pria-pria berpeci melontarkan perkataan layaknya
guntur yang menyambar hatinya. Ia tak kuat dengan keadaan ini. Ia harus kembali
dengan orang tuanya yang nyaman.
Bocah itu beranjak pergi dari
jendelanya. Menghampiri lemari dan mengapai sebuah koper. Dibuka lemari dan
koper itu. Ia mulai memindahkan satu persatu baju yang ada di lemari ke koper
besarnya.
"Apa yang kamu lakukan Tofa?
Mau kemana?" Tanya temannya kebingungan melihat perilaku bocah itu.
"Aku bosan di sini. Aku ingin pulang bertemu ibu dan ayah." Jawab
bocah itu tanpa menghentikan pekerjaannya. "Kamu mau minggat? Jangan
bahaya Tofa.". Bocah tak menghiraukan sama sekali perkataan temannya. Apa
yang ia inginkan harus ia peroleh.
Isi koper semakin penuh, isi lemari
sebaliknya. Pakaiannya pindah begitu saja. Tanpa dilipat terlebih dahulu. Tanpa
dirapikan terlebih dahulu. Bocah itu tak kenal lelah dengan kesibukannya. Malah
ia menambahkan kecepatannya memindahkan pakaian-pakaiannya.
Belum rampung pekerjaannya, hujan
turun dengan deras. Bocah itu menghentikan kesibukannya dan berlari menuju
jendela. Ia pandangi langit yang penuh dengan air dan guntur. "Yah kenapa
harus hujan sih." Ia kesal dengan awan. Awan tak mau mengerti kemauannya.
Sekarang ia benci awan dan segala sesuatu yang keluar darinya. Sebagaimana ia
benci kepada pria berpeci.
Walaupun niatnya digoyahkan oleh
awan. Tapi ia tetap bertekad. Bocah itu kembali menuju ke kopernya. Dengan
langkah yang loyo. Seperti mayat hidup yang pernah ia tonton di televisi.
Pergerakannya amat lambat. Tapi ia tetap melanjutkan pekerjaannya hingga
benar-benar tuntas sembari menunggu hujan reda.
Teman-temannya masih kebingungan
dengan tindakannya. Tapi bocah itu tak menghiraukan mereka. Ia malah duduk
santai setelah semua isi lemari masuk ke dalam kopernya. Hujan masih mengguyur
tempat itu. Bocah itu merasa bosan. Kemudian ia rebahan dan menyandarkan
kepalanya di koper yang sudah beres.
Suara guntur mengagetkan memekikan
telinga. Cahaya putih muncul menyambar depan pintu. Mereka terkejut dan
ketakutan. Bekas sambaran itu mengepulkan sebuah asap. Asap yang sangat tebal.
Tiba-tiba muncullah dari balik asap sepasang suami istri yang berpakaian serba
putih.
"Ayah? Mama?" Bocah itu
terheran-heran. Ia langsung menghampiri mereka yang masih bergumul dengan asap.
Dengan terbatuk-batuk bocah itu memeluknya. Kemudian menyalami tangan mereka.
Teman-teman bocah itu ikut menyalami tangan mereka sambil keheranan.
Bocah itu mempersilakan orang
tuanya duduk. Mereka duduk disamping koper. "Kenapa mau pulang, Sayang?
Bukankah di sini menyenangkan banyak teman?" Tanya ibunya. Bocah itu
menceritakan tentang pria-pria berpeci itu dan buku-buku yang mereka bawa. Ia
selalu tak bisa memahami isi buku itu. Sehingga pria berpeci dengan mudah
memarahinya. Terkadang sebilah rotan dengan cepat menyambar tangannya.
"Sudah nak. Kau harus sabar
dan lebih tekun. Cintailah mereka dan bukunya. Niscaya kamu akan mengetahui apa
yang mereka jelaskan dan isi dari buku mereka. Kami selalu menunggumu di rumah.
Buat lah kami bangga." Ucap ayahnya bocah dengan bijak.
Bocah itu ingin membantah perkataan
ayahnya. Tapi ia sangat menghormati ayahnya. Ayahnya tak tahu apa yang bocah
itu rasakan. Apalagi mencintai pria berpeci yang menyebalkan seperti awan.
Sangatlah sulit bagi bocah itu.
Bocah itu berniat melakukan apa
yang orang tuanya katakan. Apakah benar jika aku mencintai pria-pria berpeci,
aku dapat mengetahui isi bukunya. "Kami pamit dulu ya, Nak. Ingat pesan
kami dan jaga diri baik-baik." Ucap ayah bocah itu.
Tiba-tiba suara yang memekikan
terdengar kembali. Dan sekelebat cahaya putih menyambar kedua orang tua bocah
itu. Mereka menghilang dengan sekejap. Bocah dan teman-temannya kebingungan.
Mencari keberadaan mereka. Bocah itu keluar dari ruangan itu. Ia berperang
dengan hujan demi mencari orang tuanya.
Saat sedang berusaha mencari
mereka, guntur menyambar bocah itu. Ia terkejut dan terbangun dari tidurnya.
Banjarnegara, 11 April 2019


0 Comments