Jalan untuk seorang wanita
Karya : Bagus Sulistio
Parno duduk di kursinya sambil
membuka lembaran berkas yang tertumpuk rapi di atas meja kerja. Matanya terus
membaca tulisan-tulisan yang ada di hadapannya. Ia asik dengan kesendiriannya
di ruang kerjanya.
Pintu ruangan terbuka. Seorang
wanita yang merupakan sekretaris Parno masuk ke dalam.
"Permisi Pak. Ada yang ingin
bertemu bapak," ucap wanita itu.
"Suruh dia masuk."
Beberapa saat kemudian sekretaris
Parno membawa seorang pria tua. Ia memakai baju koko putih dan berkopiah hitam.
Tangannya yang penuh urat dan kerutan tanda sudah berumur memegang sebuah
berkas. Kemudian ia duduk di kursi yang disediakan setelah dipersilahkan oleh
Parno.
"Gimana Pak? Minta
sumbangan?" tanya Parno sinis.
Belum sempat pria tua itu menjawab,
Parno langsung mengambil uang yang ada di laci meja kerjanya, memberikannya
kepada pria tua. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan pria tua tadi langsung
pergi dari ruangan Parno.
"Datang tinggal minta.
Emangnya aku gudang duit apa!" ocehan Parno
Beberapa saat kemudian
sekretarisnya tadi, Riska, kembali menghampiri Parno. Ia menemui Parno kembali.
Ada sesuatu dalam benaknya yang ingin disampaikan kepada atasannya.
"Pak, izinkan saya
menyampaikan pendapat warga," kata Riska dengan gugup.
"Pendapat tentang apa?"
"Jalan utama desa Sukasari
sudah lama rusak, Pak. Mereka ingin Bapak segera memperbaiki," jelas
Riska. Jalan-jalan itu memang rusak berat. Aspal yang dulu dibuat telah
mengelupas. Batu kerikil sebagai salah satu bahan pembuatan jalan dulu, keluar
berhamburan berantakan di jalan. Hal itu sangat membahayakan bagi pengendara
beroda dua.
"Ya nanti saya pikirkan. Dana
dari atas belum turun ke saya," jelasnya, "Suruh mereka sabar
dulu."
Setelah mendengar penjelasan dari
atasannya, Riska keluar dari ruangan Parno, ada urusan lain yang perlu Riska
kerjakan. Akan tetapi pada saat ia membuka pintu, seseorang berpakaian rapi
dengan stelan jas hitam masuk begitu saja ke ruangan Parno.
"Silahkan duduk Pak
Freddy!" sambut Parno dengan ramah dan senyum.
Riska merasa ada yang aneh dalam
pertemuan mereka. Jarang sekali Parno menyambut tamu-tamunya seperti itu.
Biasanya ia bersikap kurang baik apalagi kepada orang yang datang hanya sekedar
minta bantuan. Riska sangat yakin orang yang barusan datang membawa sesuatu hal
baik untuk Parno. Riska sangat penasaran. Walaupun ia sudah keluar dari ruangan,
rasa penasarannya masih berada di dalam ruangan. Tubuhnya mencoba menguping pembicaraan mereka dari
balik pintu.
"Bagaimana perkembangannya
Pak? Mau dilanjutkan atau tidak nih?" suara pria berjas itu.
"Tentu lanjut Pak. Warga sudah
tidak sabar ingin jalan baru. Padahal dana keluar dari atas pas-pasan. Kalau
mau yang bagus gak dapet untung saya."
Pembicaraan tentang uang di kantor
pemerintah memang hal yang sangat sensitif. Riska berusaha terus berdiri di
balik pintu demi mendapatkan informasi penting ini. Walaupun masalah uang atau
hal serupa bukan urusannya tetapi rasa penasarannya tidak terbendung lagi membuat
ia ingin mencari tahu.
"Ohh ya dari tadi belum ada
kopi ya?" suara Parno terdengar dari dalam ruangannya, "Tunggu
sebentar ya aku ambilkan dulu."
Riska buru-buru menjauh dari pintu.
Ia tak mau tindakannya diketahui oleh atasannya. Bisa gawat urusannya jika ia
kepergok berada di balik pintu. Untuk memgelabuhi Parno, Riska pergi ke meja
kerjanya yang tak begitu jauh dari tempatnya berdiri tadi.
Parno yang keluar dari ruangannya
pergi menuju ke dapur. Selang beberapa menit ia kembali lagi ke ruangan dengan
membawa dua cangkir kopi. Untuknya dan tamu yang berpakaian rapi itu.
Melihat situasi yang cukup aman,
Riska kembali mendekati pintu. Menguping pembicaraan yang tadinya sempat
terputus. Ia harus mengetahui informasi ini secara utuh. Agar ia tahu apa yang
telah dilakukan Parno, atasannya itu.
"Silahkan diminum kopinya,"
suara Parno kembali terdengar jelas dari balik pintu. Namun setelah ia
mempersilakan minum, ruangan menjadi sepi. Tak terdengar suara apapun kecuali
suara seruputan kopi.
"Oke baiklah nanti saya akan
kirim uangnya Pak," Parno memulai pembicaraan kembali, "senang
bermitra dengan Bapak."
Riska yang masih berdiri di balik
pintu masih menunggu pembicaraan selanjutnya. Ia tanpa lelah terus menguping
tapi rasanya tidak ada percakapan lagi antara mereka.
Riska yang berada di balik pintu kaget
mengetahui tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Pria berjas keluar dari ruangan. Ia
menatap sinis penuh curiga kepada Riska.
Hal itu membuat Riska menjadi salah tingkah dan gugup. Ia takut tindakannya di
ketahui pria berjas rapi itu. Untuk mengatasi rasa gugupnya ia pura-pura masuk
ke dalam ruangan Parno.
"Ada apa Ris?" tanya
Parno.
Riska yang masih terbawa rasa gugup,
kebingungan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Ia berpikir dan berusaha
mencari alasan, "Bapak mau saya buatkan kopi?"
"Tidak usah. Baru saja saya
membuat kopi," tolak Parno, "Oh ya, administrasi untuk perbaikan
jalan Sukasari tolong diselesaikan besok pagi ya!"
Entah apa yang dipikirkan Parno.
Tugas yang seharusnya diselesaikan tiga hari kedepannya tapi Parno memintanya merampungkan
besok pagi. Mau tidak mau Riska harus telat pulang. Ia harus lembur mengerjakan
tanggung jawabnya sebagai sekretaris kecamatan.
Waktu jam kerja telah usai hari
ini. Seluruh pegawai kecamatan satu persatu meninggalkan kantor kecamatan.
Parno pun pergi meninggalkan ruangannya dan kembali ke rumahnya. Hanya Riska
seorang dan beberapa penjaga yang masih di bertahan di kantor kecamatan itu. Riska fokus berkutat
dengan komputernya. Menyelesaikan pekerjaan yang deadline-nya besok pagi.
Tugas yang digadang-gadang tak akan
rampung hari ini akhirnya selesai juga. Riska merasa lega dan akhirnya dapat
pulang juga. Ia yang seharusnya pulang sebelum matahari terbenam malah pulang
pada saat langit telah gelap karena malam. Itu semua dilakukannya demi perintah
Parno.
Riska memacu motornya dengan cukup
kencang. Ia ingin sekali cepat-cepat merasakan rebahan di atas kasur. Selain
itu ada alasan lain yang membuatnya cepat-cepat pulang. Jalan yang sepi ini
membuatnya tak enak dan takut. Entah takut karena hantu atau orang jahat yang
berbuat tak baik kepadanya. Yang jelas jika ada sesuatu hal yang buruk terjadi
tak ada orang yang bisa menolongnya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Jalan ini sangatlah sepi.
Saat sedang fokus memacu motornya,
nampak di depan sana tiga orang berdiri di tengah jalan. Sontak Riska
memperlambat motornya agar ia tak menabrak para pejalan kaki itu, menurutnya.
Setelah semakin dekat dan berpapasan, tiga orang itu menghadap Riska.
"Berhenti!" teriak salah
satu dari mereka sambil memegang motor Riska.
Riska tak bisa kabur dan memacu
motornya. Ia merasa sangat takut. Berteriak minta tolong pun percuma, tak rumah
bahkan orang lain kecuali mereka. Pasrah adalah salah satu tindakan yang bisa
ia perbuat.
"Apa yang kalian mau?"
tawar Riska pasrah, "ambil tasku di dalamnya ada uang yang cukup
banyak."
"Kami tak ingin harta. Kami
ingin nyawa, nyawamu," ucap salah satu mereka sambil tertawa
terbahak-bahak, "Jika kau masih hidup, usaha bos kami akan gagal."
Orang yang berbicara dengan Riska
mengeluarkan sebilah pisau. Sedangkan lainnya dengan sigap memegang tangan
Riska yang ketakutan. Riska berusaha melawan, memberontak dan berteriak. Tapi
semua percuma. Sebilah pisau menancap di perut Riska dan darahnya mengalir
deras ke jalan yang rusak ini.



0 Comments